SEKOLAH BARU

 Lagi-lagi Edita menghindar. Kinan sempat melihat sekelebat bayangannya yang menyelinap di lorong menuju ruang perpustakaan. Kinan Berusaha mengejarnya. Namun, Edita terlanjur menghilang. Kinan kehilangan jejak. Kinan penasaran. Sejak pertama kali pindah ke sekolah ini, Edita selalu menghindarinya. Padahal, Kinan sering bertemu pandang dengannya. Kinan tahu bahwa diam-diam Edita sering memandanginya. Namun, saat Kinan menatapnya, anak perempuan berambut ikal pendek itu langsung membuang muka. "Edita? Anak itu pendiam, tidak punya teman. Dia hanya berteman dengan Hanna, tetapi dia pintar Dia juara kelas. Dia pindah ke sekolah ini waktu kelas dua," cerita Cory, teman sebangku Kinan. "Pindah dari mana?" tanya Kinan. "Kenapa tak punya teman?" "Dari kampung Obia, tetapi di Obia hanya mengungsi. Aslinya dari pedalaman!" sahur Cory. "Ya, sepertinya dia menang senang sendirian. Diam saja dan tak suka berbicara dengan kami." "Kenapa mengungsi?" Kejar Kinan. Cory mengangkat bahu "Saya tidak tahu. Edita tak pernah mau bercerita pada teman-temannya."

Hem, rupanya Edita juga anak pindahan. Mengapa sepasang mata Edita selalu menatap Kinan dengn tajam? Apakah Kinan juga anak pindahan? Atau Edita tidak suka dengan kedatangan Kinan? Apakah Edita takut jika gelar juara kelas akan pindah ke tangan Kinan? Ah, Kinan semakin penasaran. "Edita, kamu sudah mengerjakan tugas menulis cerita?" Tanya Kinan sambil duduk di samping Edita. Edita tersentak. Dia menatap Kinan tajam, lalu cepat-cepat menutup bukunya. "Sudah." kamu menulis cerita apa?" Kejar Kinan. Edita mengangkat bahu. "Ah, cerita saya tak bagus. Maaf, saya mau ke toilet." Edita pun berlari meninggalkan Kinan. selalu saja ada alasan bagi Edita untuk menghindari Kinan. Kinana semakin penasaran. Sudah dua minggu Kinan bergabung sama teman-teman di sekoalh barunya. Kinan duduk di kelas 4 sekolah dasar (SD). Dia berasal dari solo, Jawa Tengah. Ayah Kinan seorang dokter yang ditugaskan di Wamena, Sebuah kota di Lembah Baliem, kabupaten Jayawijaya, papua. Sebenarnya, kinan tidak ingin mengikuti ayahnya pindah. Namun, kalau tidak ikut, Kinan bersama siapa do Solo? Ibu dan Ajeng, adiknya, ikut pindah ke wamena. pertama kali menginjakkan kaki di bandara Wamena, Kianan terpukau. Kinan pikir Wamena sepi. ternyata sejak di bandara sudah terasa keramaian-nya. Matahari Wamena terasa begitu terik, lebih terik dari pada Solo. Namun, angin sepoi-sepoi yang bertiup memberikan kesejukan. Di kejauhan, terhampar pegunungan menghijau. Kota Wamena memang terletak di Lembah yang dikelilingi.

"Ini seperti kota di pedesaan. pemandangan yang indah," batin Kinan. "Ah, tetapi aku tetap lebih suka tinggal di Solo." Kian mendesah. Tiba-tiba dia ingat rumahnya di Solo. Tiba-tiba dia merindukan teman-temannya. Kinan tidak tahu apakah dia bisa menyukai Wamena Kinan juga tak tahu apakah dia akan punya banyak teman di Wamena. Sebelum berangkat ke Wamena, Kinan sempat membaca di internet tentang Wamena. Wamena berasal dari bahasa Dani wa dan mena, artinya babi jinak. Ada banyak suku di Wamena. Yang peling besar adalah suku dani, Lani, dan Yali. Teman-teman sekelas Kinan banyak yang berasal dari suku Dani. Selain terkenal dengan budaya perang, Masyarakat suku Dani juga dikenal sebagai petani yang terampil. Sebagian besar penduduk bekerja dengan bercocok tanam, berburu, dan beternak babi. Mereka sering mengadakan berbagai upacara adat untuk menghormati nenek moyang. Awalnya, Kinana agak takut menghadapi hai pertamanya di sekolah baru. Seperti apakah teman-temannya nanti? Apakah mereka sebaik teman-temannya di

1 komentar:

KISAH NABI ADAM AS

Kisah Nabi Adam menceritakan terciptanya manusia pertama yang kelak akan menghuni bumi. Nabi Adam tercipta dari tanah dan Allah memuliakan-n...