Lalu Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 M di Campa serta diperkirakan tutup usia pada tahun 1841 di Demak. Sedangkan makam dari Sunan Ampel adalah di bagian barat Masjid Ampel yang terletak di kota Surabaya.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika, Sunan Ampel pada masa kecil lebih banyak dikenal sebagai Raden Rahmat. Lalu untuk penggunaan nama Ampel sendiri lebih banyak diidentikkan dengan nama tempat dimana beliau tinggal yaitu daerah Ampel atau Ampel Denta. Wilayah tersebut saat ini menadi bagian kota Surabaya.
Berapa sumber menjelaskan jika Sunan Ampel awal masuk ke pulau Jawa adalah pada tahun 1443 M bersama dengan Sayid Ali Murtadho yang sejatinya adalah adik dari Sunan Ampel. Sebelum masuk ke pulau Jawa, Sunan Ampel dengan Sayid Ali Murtadho berada di Palembang di sekitar tahun 1440.
Setelah berada di Palembang sekitar tiga tahun, mereka selanjutnya berada di daerah Gresik. lalu pergi kembali ke wilayah Majapahit untuk menemui bibinya. Bibi dari Sunan Ampel adalah seorang putra dari Camp bernama Dwarawati.
Dwarawati sendiri menikah dengan seorang raja dari Majapahit bergelar Prabu Sri Kertawijaya serta memeluk agama hindu.
Perjalanan Hidup Milik Sunan Ampel
Sunan Ampel atau Raden Rahmat adalah salah satu anggota dari sembilan wali atau lebih banyak dikenal sebagai Wali Songo. Wali Songo sendiri adalah beberapa orang yang melakukanpenyebaran ajaran agama islam di wilayah tanah Jawa.
Sama seperti Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel juga memiliki jasa yang begitu besar terhadap perkembangan ajaran islam, khususnya di wilayah Tanah Jawa.
Beberapa kalangan juga memiliki pendapat jika Sunan Ampel adalah bapak dari para wali. Hal ini tak lain karena Sunan Ampel mampu melahirkan para pendakwah nomor satu di wilayah Tanah jawa.
Raden Rahmat merupakan nama asli dari Sunan Ampel. Sedangkan untuk istilah Sunan sendiri adalah suatu gelar kewalian yang dimilikinya. lalu nama Ampel atau nama Ampel Denta lebih merujuk ke tempat di mana beliau tinggal yaitu sebuah wilayah bernama Ampel yang sangat ini berada di sebelah udara Kota Surabaya, Jawa Timur.
Diperkirakan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 M di Champa. Perlu di ketahui juga jika para sejawaran sulit untuk menentukan dimana wilayah Champa. hal ini karena belum adanya pertanyaan tertulis yang menjelaskan wilayah Champa adalah berada di Malaka atau kerjaan Jawa.
Namun, ada juga yang yakin jika Champa adalah kata lain Jeumpa dalam bahasa Aceh. Oleh karena itu Champa berada di wilayah kerajaan Aceh.
Sunan Ampel memiliki ayah bernama Sunan Maulana Malik Ibrahim. Sunan Maulana Malik Ibrahim sendiri memiliki nama lain sebagai Sunan Gresik yang juga masih keturunan dari Syekh Jamaluddin Jumadil Kubro seorang Ahlussunnah bermazhab Sayfi'i.
Syekh Jamaluddin adalah seorang ulama yang berasal dari Samarkand, Uzbekistan. Ibu dari Sunan Ampel adalah Dewi Candrawulan. Dewi Candrawulan juga masih menjadi saudara kandung dari putri Dwarawati Murdiningrum yang juga merupakan ibu dari Raden Patah serta istri dari Prabu Brawijaya V seorang raja Majapahit.
Selama perjalanan hidupnya, Sunan Ampel memiliki dua istri yaitu Dewi Karimah dan Dewi Candrawati. Ketika bersama dengan istri pertamanya Dewi Karimah, Sunan Ampel memiliki dua orang anak yaitu Dwi Murtasih yang juga menjadi istri dari Raden Patah.
Raden Patah adalah sultan pertama dari kerajaan Islam Demak Bintoro. Lalu anak keduanya adalah Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri dari Raden Paku atau Sunan Giri.
Sedangkan ketika bersama dengan Dewi Chandrawati, Sunan Ampel di karunia Lima orang anak yaitu Siti Syare'at, Siti Mutmainnah, Siti Sofia, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang. Serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang kemudian lebih banyak di kenal dengan sebutan dengan Sunan Drajad.
Pernikahan Sunan Ampel Dengan Seorang Putri Dari Adipati Tuban
Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika Sunan Ampel memiliki dua orang istri, salah satunya adalah Dewi Candrawti. Dilihat dari silsilahnya, Dewi Candrawati sendiri merupakan seorang putri dari adipati di wilayah Tuban saat itu.
Ketika bersama dengan Dewi Chadrawati, Sunan Ampel memiliki beberapa putra dan putri. Salah satunya yang juga menjadi penerusan dari Sunan Ampel adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajad.
Ketika kesultanan Demak hendak didirikan, Sunan Ampel juga turut andil dalam proses lahirnya kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa.
Lalu Sunan Ampel menunjuk seorang murid dari beliau yaitu Raden Patah sebagai sultan Demak pada tahun 1475 M. Perlu diketahui jika Raden Patah sendiri adalah putra dari Prabu Brawijaya V seorang Raja dari Majapahit.
Sebuah wilayah bernama Ampel Denta dengan kondisi berawa-rawa merupakan wilayah yang diadiahkan oleh Raja Majapahit kepada Sunan Ampel. Ketika berada di wilayah tersebut, Sunan Ampel mendirikan dan mengembangkan pondok pesantren.
Pada awalnya Sunan Ampel mengajak masyarakat di wilayah tersebut. Berlanjut hingga abad ke-15, Pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel berhasil menjadi pusat pendidikan yang begitu memberikan pengaruh pada wilayah Nusantara, bahkan hingga ke Mancanegara.
Diantara semua santri-nya ada beberapa santri yang mungkin banyak kita kenal saat ini adalah Sunan Diri dan Raden Patah. Dimana para santri tersebut ditugaskan untuk melakukan dakwah ke berbagai macam pelosok wilayah Jawa dan Madura.
Meski Sunan Ampel menganut Fikih Mazhab Hanafi, akan tetapi kepada para santri-nya beliau memberikan pelajaran yang begitu sederhana, Khususnya pada menanam akidah serta ibadah.
Sunan Ampel juga mengenalkan Metode Mo Limo. Dimana Mo Lomi sendiri merujuk pada moh main, mioh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon. Sedangakan jika diartikan bahasa Indonesia adalah tidak berjudi, tidak minum-minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan markotik, dan tidak berzina.
Pengaruh Sunan Ampel Terhadap Kerajaan Majapahit
Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Ampel juga memberikan pengaruh cukup kuat di kerajaan Majapahit.
Meskipun rasa Majapahit pada masa itu menolak untuk memeluk agama Islam, Namun Sunan Ampel mendapatkan kebebasan dalam memberikan pembelajaran tentang agama Islam bagi masyarakat Majapahit, asalkan tidak memerikan pakaian apapun.
Ketika berada di Majapahit, Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila seorang putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban.
Sejak saat itu, gelar pangeran dan Raden melekat pada nama depan dari Sunan Ampel. Bahkan Sunan Ampel juga diperlukan layaknya keluarga kerajaan Majapahit serta semakin disegani oleh setiap orang yang ada di wilayah tersebut.
Pada suatu Waktu, Sunan Ampel melakukan perjalanan ke Ampel. Mulai dari Trowulan melewati Desa Krian, Wonokromo hingga berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Pada setiap perjalanan yang dilakukannya ia tak lupa untuk berdakwah.
Bahkan Sunan Ampel juga membagi-bagikan kipas yang tersebut dari akar tumbuhan kepada penduduk sekitar. Agar bisa mendapatkan kipas tersebut, masyarakat hanya perlu mengucapkan Syahadat.
Dan sjak itu hingga berjalannya waktu, pengikut dari Sunan Ampel mulai bertambah banyak. Sebelum beliau tiba di wilayah Ampel, Sunan Ampel juga membangun langgar atau Musholla sederhana di wilayah Kembang Kuning.
Wilayah Kembang Kuning hanya berjarak sekitar delapan kilometer dari daerah Ampel. Langgat tersebut selanjutnya berkembang menjadi besar, megah hingga mampu bertahan sampai saat ini. Untuk saat ini langgar tersebut memiliki nama Masjid Rahmat.
Ketika Sunan Ampel berada di wilayah Ampel, langkah pertama yang dilakukan olehnya adalah dengan melakukan pembangunan masjid sebagai pusat ibadah serta berdakwah.
Selanjutnya, beliau juga membangun pesantren dengan mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di wilayah Gresik. Sedangkan untuk format pesantren tersebut adalah dengan menggunakan konsep biara yang sudah banyak dikenal masyarakat jawa saat ini.
Metode Dakwah Sunan Ampel
Hal berikutnya yang akan tiba bahas bersama adalah metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel. Metode dakwah yang ditempuh oleh Sunan Ampel terbilang cukup singkat dan cepat. Hal ini karena Sunan Ampel menggunakan metode dakwah Moh Lomi yang memiliki arti tidak melakukan lima hal tercela.
Adapun filsafat metode Moh Limo milik Sunan Ampel adalah seagai beikut ini.
- Moh main yang memiliki arti tidak ingin berjudi.
- Moh ngombe yang memiliki arti tidak mau mabuk.
- Moh maling yang memilki arti tidak mau mencuri.
- Moh madat yang memiliki arti tidak mau menghisap candu.
- Moh madon yang memiliki arti tidak mau melakukan zina.
1. Masjid Sunan Ampel
Sunan Ampel merupakan sosok yang turut serta dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, tentunya peninggalan dari Sunan Ampel yang pertama adalah seperti rumah ibadah umat Muslim seperti Masjid.
Masjid Sunan Ampel Sunan Ampel menjadi bukti adanya sejarah dari penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Ampel. Masjid Sunan Ampel saat ini menjadi salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia.
Karena hal tersebut juga menjadikan masjid Sunan Ampel banyak di kenal oleh hampir setiap umat muslim di nusantara. Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Sunan Ampel juga kerap dikunjungi masyarakat sebagai wisata rohani.
Banyak umat muslim yang berkunjung masjid tersebut untuk beribadah serta di lanjutkan melakukan ziarah ke makam Sunan Ampel. Mereka mengirim do'a untuk Sunan Ampel serta secara langsung melakukan pembelajaran akan sejarah keislaman yang disebabkan oleh Sunan Ampel melalui wisata rohani tersebut.
2. Masjid Rahmat Kembang Kuning
Bukan hanya masjid Ampel saja, namun ada masih beberapa tempat ibadah lainnya yang merupakan peninggalan sejarah dari Sunan Ampel. Salah satunya adalah masjid Rahmat Kembang kuning.
Keberadaan dari masjid ini juga menjadi bukti dari dakwah dan juga penyebaran ajaran agama Islam yang di lakukan oleh Sunan Ampel. Berbeda dari lokasi masjid pada umumnya, pasalnya lokasi dari masjid Rahmat berada di tengah hutan.
Sunan Ampel pada masa itu harus melakukan pembukaan lahan hutan agar dapat membangun masjid tersebut. Pada awalnya keberadaan masjid Rahmat sama seperti majelis sederhana atau tempat menimba ilmu. Namun Sunan Ampel juga mebangun-nya menjadi lebih baik agar bisa lebih layak untuk digunakan.
3. Masjid Jami' Peneleh
Masjid peninggalan dari Sunan Ampel yang berikutnya adalah Masjid Jami' Peneleh Surabaya. Diyakini jika keberadaan masjid Jami' Peneleh merupakan yang berdiri pertama kali di wilayah Surabaya.
Akan tetapi, dibandingkan dengan dua masjid sebelumnya, keberadaan dari masjid Jami' Peneleh kurang populer. Diperkirakan perbedaan dari masjid ini awal dibangun adalah pada waktu sekitar abad ke-15.
4. Kampung Arab
Peninggalan Sunan Ampel yang selanjutnya adalah kampung Arab.Keberadaan dari kampung Arab adalah bukti akan adanya jejak dakwah agam islam yang dilakukan oleh Sunan Ampel. Kampung Arab Lahir karena pada wilayah tersebut banyak penduduk setempat yang merupakan keturunan Arab.
Sama dengan namanya, suasana Timur Tengah ditawarkan oleh kampung Arab. banyak sentuhan bahasa Arab yang mudah di temukan pada sudut kampung maupun nama-nama tokoh setempat.
Kampung Arab di sekitar Masjid Ampel. Jika anda berkunjung ke kampung Arab, selain bisa mempelajari sejarah, anda juga masih bisa berbelanja oleh-oleh khas daerah tersebut. Pasalnya banyak barang yang bisa dibeli dan cocok banget dijadikan sebagai oleh-oleh.
5. Makam Sunan Ampel
Sunan Ampel dikenal sebagai sosok alim, pintar, bijaksana dan bersahaja dimakamkan di wilayah Ampel Denta. Anda bisa berkunjung ke makam tersebut untuk berziarah sekaligus mempelajari jejak sejarah.
Sunan Ampel menghabiskan masa hidupnya untuk melakukan dakwah dan tinggal di tangan dengan ukuran luas 12 hektar milik Raja Majapahit hingga akhirnya beliau wafat pada tahun 1481. Ia kemudian dimakamkan di area Masjid Ampel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar