Perahu kecil itu melambat, lalu berhenti. "Baling-balingnya terlebit sampah plastik lagi, pa? "tanya Nina.
Prigi, Papa Nina, mengangguk. Prigi memandangi air yang keruh dan berbau. "Dulu sungai Brantas tidak seperti ini. "
"Papa bisa bermain air dari hingga siang hari. Seru sekali !"
Kemudian sebuah pabrik kertas didirikan di dekat rumah. Pabrik itu membuang limbah tanpa diolah. Keadaan sungai pun mulai berubah. Ayah Prigi melawan pencermaran tersebut. Ia juga mengajak warga untuk melindungi sungai. Ayah Prigi tidak berhenti melawan meski mendapat ancaman.
Ayah Prigi sering mengajak Prigi melihat pertunjukan wayang kulit. Ia memperkenalkan Prigi pada tokoh Bima. Bima adalah salah satu tokoh pandawa Lima. "Jadilah seperti Bima, "kata ayah Prigi. "Ia tidak lelah membela orang lemah. "
Ibu Prigi bekerja sebagai penjahit. Ia sering meminta Prigi mengantar jahitan. Prigi jadi terlatih bicara dengan banyak orang. Bahkan, ia belajar menghadapi keluhan pelanggan.
Prigi terus mengingat ajaran orangtuanya. Prigi ingin melindungi sungai. Maka, ia mempelajari ilmu biologi. Ia pun membaca tentang cara kerajaan-kerajaan kuno yang melindungi sungai.
Selama ratusan tahun, mereka memanfaatkan sungai tanpa merusaknya. Prigi bertanya-tanya, mengapa zaman orang sekarang tidak bisa melakukannya?
Prigi memutuskan untuk bertindak, Prigi lalu memimpin gerakan melawan pencermaran.
"Sungai bukan peninggalan nenek moyang. Sungai adalah warisan yang harus kita jaga untuk generasi berikutnya."
Ada akibat dari setiap tindakan. Setelah memimpin perlawanan, Prigi harus menjawab banyak pertanyaan di kantor polisi.
Prigi sedih saat melihat orangtuanya datang menjemput. Ternyata, orang tua Prigi tetap mendukung keputusannya. Ayah Prigi berkata. "jangan berhenti menyampaikan kebenaran, Nak. Orang yang membela kebenaran, akan selalu jadi pemenang."
Prigi sadar dirinya perlu bukti untuk melawan pencemaran. Bersama teman-teman dan istrinya, Daru, Prigi melakukan penelitian. Mereka mengukur kerusakan sungai akibat limbah dan sampah. Hasilnya, air sungai tidak layak lagi dikonsmsi.
Pencemaran juga memengaruhi kehidupan di dalam sungai. Ikan-ikan makan sampah karena tidak bisa membedakan sampah dan makanan. Kemudian, manusia makan ikan. Pada akhirnya, manusia makan sampah mereka sendiri."Lingkaran ini harus diakhiri ! ujar Prigi.
Prigi mengubah informasi menjadi senjata yang sakit.
Prigi menuntut industri yang mencemari sungai.
Prigi juga meminta pemerintah membuat peraturan baru. Pak Karwo, Gubernur Jawa Timur saat itu, melalui program patroli sungai.
Bu Kholfah, Gubernur yang baru, memimpin pembersihan sampah pokok.
Kemudian, Prigi mengeluarkan jurus kedua. Jurus serangan Bumi !
Prigi mengajari masyarakat cara melindungi sungai. Menurut Prigi, semua orang punya peran penting dalam menjaga sungai.
Namun Prigi percaya, Kesatria sungai yang sebenarnya adalah anak anak ! Prigi pun melatih mereka.
Berapa anak menjadi detektif sungai. Yang lainnya menulis surat untuk para pencemaran.
Ketika putri Prigi juga sangat mencintai lingkungan.
Termasuk Nina !
Perahu kecil itu melambat, lalu berhenti. "Apakah tugas kita selesai, Papa ? "tanya Nina.
"Belum, "Prigi menggeleng. "Masih banyak tugas yang harus kita kerjakan. " Ayo, bersihkan salju dari sungai kita !"
Dahulu, raja Airlangga mendirikan kerajaan kehuripan. Namun, banjir menimpa kerajaan itu. Sang raja lalu membangun Bendungan Waringin Sapta pada 1037. Sungai Berantas jadi lebih ramai. Sebuah pohon beringin besar tumbuh di dekat Bendungan. Akar pohon beringin menjaga ketahanan bendungan. Raja Airlangga ingin menjaga agar aliran air ke sungai tetap bersih. Pemandian raja yang sakral pun dibangun.
Kerja sangat cepat dan hasil cerita yang baik pula,
BalasHapusLayak mendapatkan nilai 100